Jumat, 23 Januari 2009

Nilai Seorang Ibu (Ku)

Mulia ibu banyak disanjung dalam sabda baginda Nabi Saw.. Di antaraya, ketika itu, sahabat Umar bin Khattab Ra. dan sayyidina Ali bin Abi Thalib, dua orang khalifah Rasul pernah ditawarkan oleh baginda Nabi Saw. untuk mencari seseorang cuma sekedar agar ia didoakan oleh orang tersebut, Uwais al-Qarny. Seorang masyarakat biasa, bukan siapa-siapa. Tak memiliki limpahan harta, tak bertahta, tak pula punya popularitas nama. Rasulullah Saw. bersabda, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarny), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”. Setelah itu, beliau memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab kemudian kembali bersabda, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah mahluk penghuni langit, bukan penghuni bumi.”.

Umar bin Khattab Ra. dan Ali bin Abi Thalib adalah dua orang sahabat dan bahkan khalifah Rasul, namun mereka pun dapat terberkati hanya oleh seorang biasa yang menjadi luar biasa sebab salah satu kesempurnaannya purna mengabdi pada ibunya. Uwais al-Qarny, sekalipun lelah sebagai seorang pengembala di waktu siang dan senantiasa istiqamah salat di malam harinya, tak sedikit pun mengeluh untuk terus merawat ibunya yang telah renta dalam keadaan lumpuh dan buta mata.

Suatu ketika, tak pernah ia merasa ragu untuk memutuskan segera pulang, sekalipun perjalanan panjang dari Yaman ke kota Mekkah telah ia tempuh, padahal maksud awal perjalanan panjang itu belum terwujud, hendak bertemu muka bersama Rasulullah Saw.. Ketika itu ia tiba di kediaman Rasulullah Saw. namun beliau sedang keluar kota, khawatir ibunya merasa menunggu lama sendirian, ia pun segera bergegas pulang.

Inilah kisah mulia seorang Uwais al-Qarny, di sana ada isyarat dahsyat nilai seorang ibu, pengabdian padanya adalah berkat. Sampai derajat wali ia dapat terangkat.

Kini, empat tahun tak bertemu ibu, sadar masa lalu menjadikan aku semakin tak dapat menghitung banyaknya jasa serta mengukur luasnya kasih ibu. Sekarang, aku hanya semakin sering tarbayang, banyak cita dan doa yang beliau harap pada diriku, namun, aku tak tau adakah yang pernah ku wujudkan harapan itu. Aku semakin sering terbayang, adakah selama ini dengan sengaja telah ku sia-siakan keberkatan hidup itu.

Akan adakah bahagia tanpa berkah. Benarkah ada cinta bila tak bahagia. Layakkah manusia hidup jika tanpa cinta. Sebab hidup adalah perjuangan dan pengorbanan, sedang cinta sumber segala kekuatan. Bermaknakah hidup tanpa keberkatan?!

Sungguh, aku semakin merasa rapuh dengan bayang-bayang itu. Ah, rasanya ingin segera ku bertemu ibu. Ingin lama ku peluk ibu. Lalu, akan kumulai tunaikan harapan-harapan ibu, yang semoga dapat menghapus rapuhku sebab bayang-bayang itu.

Yah, rapuh akan runtuh, kembali dibangun sebagai yang baru, dengan segala kesadaran atas masa lalu. Get’s revolution!, itu janjiku. Untuk perjalanan sisa hidup yang tak tentu... selagi ada waktu guna memberi bahagia ibu. []